Pembagian Waktu di Wilayah Indonesia

Hey guys!
Disini admin akan memposting tentang pembagian waktu di wilayah Indonesia. Langsung aja scroll kebawah bagi yang udah penasaran :D

Pembagian Waktu Wilayah Indonesia


   Republik Indonesia adalah salah satu Negara terluas di Dunia yang terletak di Asia Tenggara. Luas wilayah Republik Indonesia yang mencapai 1,9 juta km2 ini terbentang dari 95⁰ Bujur Timur hingga 141⁰ Bujur Timur sehingga diperlukannya pembagian waktu menjadi 3 Zona Waktu.

   Berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 41 tahun 1987, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibagi menjadi 3 (tiga) Zona waktu yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Timur (WIT).
Pembagian Waktu di Indonesia.
Berikut ini adalah Rinican daerah ataupun Provinsi yang berada dalam zona waktu yang bersangkutan :

1. Waktu Indonesia Barat (WIB)
Waktu Indonesia Barat atau disingkat dengan WIB terbentang sepanjang garis 105⁰ Bujur Timur yang mencakup pulau Jawa, pulau Madura, pulau Sumatera, pulau Kalimantan bagian barat dan tengah. Waktu Indonesia Barat (WIB) ini sama dengan pembagian waktu internasional UTC +7 atau GMT +7.
Provinsi-provinsi yang termasuk dalam Zona Waktu Indonesia Barat (WIB) adalah sebagai berikut :
1.            Provinsi Nangroe Aceh Darussalam
2.            Provinsi Sumatera Utara
3.            Provinsi Sumatera Barat
4.            Provinsi Riau
5.            Provinsi Kepulauan Riau (Kepri)
6.            Provinsi Jambi
7.            Provinsi Sumatera Selatan
8.            Provinsi Lampung
9.            Provinsi Bangka Belitung
10.          Provinsi Bengkulu
11.          Provinsi DKI Jakarta
12.          Provinsi Jawa Barat
13.          Provinsi Banten
14.          Provinsi Jawa Tengah
15.          Provinsi DI Yogyakarta
16.          Provinsi Jawa Timur
17.          Provinsi Kalimantan Barat
18.          Provinsi Kalimantan Tengah

2. Waktu Indonesia Tengah (WITA)
Waktu Indonesia Tengah atau disingkat dengan WITA terbentang sepanjang garis 120⁰ Bujur Timur yang mencakup Pulau Sulawesi, Pulau Bali, Pulau Kalimantan bagian Utara, Timur dan Selatan serta wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Waktu Indonesia Tengah (WITA) ini sama dengan pembagian waktu Internasional UTC +8 atau GMT +8.
Provinsi-provinsi yang termasuk dalam Zona Waktu Indonesia Tengah (WITA) diantaranya adalah :
1.            Provinsi Kalimantan Utara
2.            Provinsi Kalimantan Timur
3.            Provinsi Kalimantan Selatan
4.            Provinsi Bali
5.            Provinsi Nusa Tenggara Barat
6.            Provinsi Nusa Tenggara Timur
7.            Provinsi Sulawesi Barat
8.            Provinsi Sulawesi Tengah
9.            Provinsi Sulawesi Selatan
10.          Provinsi Sulawesi Tenggara
11.          Provinsi Sulawesi Utara
12.          Provinsi Gorontalo

3. Waktu Indonesia Timur (WIT)
Waktu Indonesia Timur atau disingkat dengan WIT terbentang sepanjang garis 135⁰ Bujur Timur yang mencakup pulau Papua dan Kepulauan Maluku. Waktu Indonesia Timur ini sama dengan pembagian waktu Internasional UTC +9 atau GMT +9.
Provinsi-provinsi yang berada dalam Zona Waktu Indonesia Timur adaalh sebagai berikut :
1.            Provinsi Maluku
2.            Provinsi Maluku Utara
3.            Provinsi Papua
4.            Provinsi Papua Barat


Catatan :
Pada dasarnya UTC (Coordinated Universal Time) sama seperti GMT (Greenwich Mean Time), yang membedakannya adalah fraksi seper-sekian detiknya. GMT lebih umum digunakan oleh keperluan sipil sedangkan UTC lebih bersifat ilmiah.
Berdasarkan pembagian zona waktu tersebut, dapat diambil contoh bahwa jika Waktu Indonesia Barat (WIB) berada pada pukul 08.00 pagi, maka Waktu Indonesia Tengah (WITA) adalah pukul 09.00 pagi atau 1 Jam lebih cepat. Sedangkan Waktu Indonesia Timur adalah Jam 10.00 pagi atau 2 jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat (WIB).

Udah jelas kan guys? Terimakasih udah mampir disini, jangan lupa baca juga artikel yang gak kalah menariknya hanya di Lentera Geografi :)

Ciri-Ciri Lapisan Atmosfer dan Manfaatnya

Hello Gusy!Kembali lagi nih bersama admin di Lentera Geografi :)Nah, untuk postingan kali ini admin akan menjelaskan tentang ciri-ciri lapisan atmosfer dan pemanfaatannya. Kalian tahukan, bahwa langit itu berlapis-lapis? *bukan tango juga keleus :vSetiap lapisan tersebut mempunyai fungsi dan kegunaannya masing-masing. Untuk lebih jelasnya langsung aja scroll ke bawah guys! Semoga bermanfaat :)


Lapisan Atmosfer Bumi

Atmosfer berasal dari kata atmos yang berarti uap atau gas dan sphaira atau sphere yang berarti bola atau lingkungan. Jadi, atmosfer ialah massa udara yang menyelimuti bulatan bumi. Atmosfer ini penting untuk melindungi bumi dari pemanasan dan pendinginan yang berlebihan, dari meteor-meteor, dan sebagainya. Dalam mempelajari atmosfer ada dua ilmu pengetahuan yang perlu dipahami, yaitu klimatologi dan meteorologi. Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang karakteristik dari kondisi atmosfer (Strahler,1983). Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang terjadi pada fenomena atmosfer pada suatu saat tertentu (Miller,1983).

Perbedaan antara klimatologi dan meteorologi adalah klimatologi mempelajari persebaran dari keadaan atau kondisi atmosfer, sebagai contoh persebaran hujan di Jawa, frekuensi terjadinya banjir dan kekeringan, baik tahunan bulanan, atau waktu tertentu. Sebaliknya, meteorologi menekankan pada proses yang berlangsung pada atmosfer, terutama sampai beberapa ratus meter di atas permukaan tanah (batas tropopause).

Pertukaran-pertukaran informasi tentang cuaca dan iklim sekarang dikoordinasi oleh WMO (World Meteorological Organization). Yaitu, suatu badan khusus milik PBB yang berkedudukan di Jenewa, Swiss, berdiri tahun 1951. WMO merupakan perkembangan dari IMO (International Meteorological Or-ganization) yang didirikan tahun 1878.

Di Indonesia, persebaran informasi cuaca dan iklim ditangani oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) yang dahulunya bernama Lembaga Meteorologi dan Geofisika. Dalam melaksanakan tugasnya, BMG yang berkedudukan di Jakarta bekerja sama dengan beberapa badan, baik swasta maupun pemerintah.

Massa udara di ruang atmosfer bumi menurut pembedaan suhunya langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap gejala cuaca dan iklim. Massa udara terdiri atas empat lapisan utama, yaitu troposfer, stratosfer, mesosfer, dan termosfer.

Atmosfer terdiri dari gas-gas atau zat-zat yang makin tinggi, makin renggang. Unsur utama yang dominan adalah nitrogen (N2) sebanyak 78%, oksigen (O2) 22%, argon (Ar) 1%, dan karbon dioksida (CO2) 0,03%. Nitrogen (N2) dalam atmosfer merupakan unsur yang tidak mudah bergabung dengan unsur lain, sehingga hanya sedikit yang dapat dimanfaatkan oleh tanah dan tumbuh-tumbuhan. Sementara itu, oksigen (O2) merupakan unsur yang aktif dan mudah bersenyawa dengan unsur lain. Hal ini dapat dilihat dalam proses pelapukan, oksidasi pada tanah, dan dimanfaatkan untuk bernapas oleh makhluk hidup.
Argon merupakan unsur yang tidak begitu penting dalam proses alam. Karbon dioksida (CO2) meskipun sedikit merupakan unsur yang sangat penting karena dapat menyerap panas matahari yang berguna bagi tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesis, yaitu mengubah zat hara menjadi karbohidrat.

Menurut Humphrey, komposisi macam-macam zat yang dihubungkan dengan ketinggian lapisan udara dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tinggi(km)
15
20
40
100
Zat
Nitrogen (N2)/ zat lemas
79,5
81,2
86,5
3.0
Oksigen (O2)/ zat pembakar
19,7
18,3
12,6
0
Argon (Ar)
0,8
0,5
0,2
0
Hydrogen (H2)/zat air
0
0
0,7
97,0





Jumlah
100,0
100,0
100,0
100,0






   Selain itu, di dalam atmosfer masih terdapat zat lain dalam jumlah kecil, yaitu neon (Ne), helium (He), krypton (Kr), xenon (Xe), metana (CH
4), Dinitrogen oksida (N2O), radon (Rn), uap air (H2O), ozon (O3), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), amonia (NH3), dan karbon monoksida (CO). Atmosfer terbagi menjadi beberapa lapisan, diantaranya :



1.  Troposfer (Troposphere)

Lapisan Troposfer




Troposfer adalah lapisan atmosfer yang paling bawah. Ketinggian troposper tidak sama, yaitu sebagai berikut. di daerah kutub tingginya 8 km dpl (di atas permukaan laut); di daerah khatulistiwa, tingginya 16 km dpl; tinggi rata-rata lebih kurang 12 km dpl.


Masa udara di lapisan ini paling rapat. Kandungan zat dan gas paling kompleks. Lebih kurang 80% dari kandungan zat dan gas seluruhnya terdapat di lapisan troposfer (lihat gambar 4.1).


Karakteristik suhu di lapisan ini, makin tinggi massa udara yang naik suhu udaranya semakin rendah. Sampai zona suhu terendah, batas troposfer dengan stratosfer mencapai -620 C (lihat gambar 4.1). Lapisan massa udara terdingin inilah yang disebut zona tropopause. Sebaliknya, gerak massa udara turun setiap 100 meter, suhu naik rata-rata 1r C. Berdasarkan karakteristik suhu udara itulah, troposfer menjadi ruang tempat terbentuknya proses cuaca atau iklim yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup di permukaan bumi. Proses-proses cuaca, seperti hujan, angin, awan, dan sebagainya terjadi pada lapisan ini.

2. Stratosfer

Lapisan Stratosfer

Lapisan stratosfer antara 15 - 55 km dari muka laut. Massa udara di lapisan ini tidak serapat massa udara di lapisan troposfer. Di lapisan bagian atas, yaitu di sekitar batas stratosfer dengan mesosfer (zona stratopause) merupakan konsentrasi gas ozon (O3) paling besar. Konsentrasi gas ozon di lapisan ini berfungsi sebagai pelindung bumi karena unsur-unsur radiasi matahari, seperti sinar gamma, sinar X, ultraviolet, dan inframerah dinetralkan oleh O3. Oleh karena itu, unsur-unsur radiasi matahari sampai ke permukaan bumi tidak membahayakan kehidupan makhluk hidup.

Suhu udara dari tropopause sampai stratopause meningkat dari -62r C hingga mencapai 0r C. Akan tetapi, dari stratopause terus menurun sampai -100r C di zona mesosfer.

3. Mesosfer

Lapisan Mesosfer

Lapisan mesosfer antara 55 - 75 km. Suhu udara di lapisan ini menurun tajam hingga mencapai -100r C. Batu-batu meteorit yang bergerak berasal dari eksosfer menembus atmosfer (akibat gravitasi bumi). Di lapisan mesosfer, batu meteorit dihimpit oleh massa udara yang dingin. Akibatnya, terbakar dan hancur sebelum menyentuh muka bumi. Jadi, mesosfer berfungsi sebagai pelindung bumi dari benturan-benturan batuan meteorit.

4. Termosfer

Lapisan Termosfer

Lapisan termosfer dari 75 km sampai ketinggian yang belum diketahui. Lapisan bawah termosfer ini disebut ionosfer. Lapisan ionosfer ini antara 75 - 375 km dan merupakan ruang tempat proses ionisasi atau pembentukan ion yang bermuatan listrik positif. Akibatnya, suhu di lapisan ini tinggi. Pada ketinggian 375 km, suhunya naik sampai 1.010r C dan pada ketinggian 480 km suhunya mencapai 1.200r C. Di lapisan ini, aurora (cahaya kutub) terlihat bergemerlapan.

Ionisasi adalah suatu proses penyerapan radiasi matahari oleh oksigen dan nitrogen menjadi atom-atom ion. Konsentrasi gas ion di ruang termosfer membentuk lapisan-lapisan yang dapat memantulkan gelombang radio (ra-dio waves) dari bumi. Lapisan ini terdiri dari lapisan D,E, dan F. Jenis gelom-bang radio yang dipancarkan oleh pemancar radio adalah sebagai berikut:
  • gelombang panjang (panjang gelombang 20.000 - 1.001 m);
  • gelombang menengah (panjang gelombang 1.000 - 201 m);
  • gelombang pendek (panjang gelombang 200 - 100 m), terbagi lagi atas gelombang pendek 200 - 51 m dan gelombang pendek 50 - 10 m.


Gelombang panjang, pada siang hari dipantulkan antara lapisan D dan permukaan bumi. Ketinggian lapisan D rata-rata 90 km. Malam hari lapisan D menghilang. Pantulan terjadi antara lapisan E dengan permukaan bumi, tetapi lemah, tidak teratur, dan hanya setempat.

Gelombang menengah, dipantulkan oleh lapisan D atau E. Ketinggian lapisan E antara 90 - 130 km. Gelombang pendek antara 200 - 50 m dapat dipantulkan oleh lapisan F1, sedangkan gelombang pendek antara 50 - 10 m dipantulkan oleh lapisan F2. Tinggi lapisan F lebih dari 130 km.

5. Eksosfer

Lapisan Eksosfer

Nah, ada satu lagi nih salah satu lapisan Atmosfer, tapi lapisan ini udah berada di luar bumi. Eksosfer adalah lapisan bumi yang terletak paling luar. Pada lapisan ini terdapat refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga dikenal sebagai cahaya zodiakal. Pengaruh gaya berat pada lapisan ini sangat kecil sehingga benturan-benturan di udara jarang terjadi. Butiran-butiran gas pada lapisan ini berangsur-angsur meloloskan diri ke angkasa luar sehingga lapisan ini juga dinamakan disipasisfer atau ruang antar planet dangeostasioner

Lapisan eksosfer memiliki sifat :


·       Eksosfer lapisan atmosfer kelima, terletak pada ketinggian 500-1000 km dari permukaan bumi.
·       Lapisan ini merupakan lapisan paling panas.
·       Molekul debu dapat meninggalkan atmosfer sampai ketinggian 3.150 km dari permukaan bumi.
·       Lapisan ini disebut juga ruang antarplanet dan geostasioner
·       Lapisan ini sangat berbahaya karena merupakan tempat terjadi kehancuran meteor dari angkasa luar.
·       Suhu lapisan eksosfer -57 °C.




Tonton juga videonya guys!




Semoga Bermanfaat!







Proses Perkembangan Bumi

Hey Guys!
Kembali lagi bersama admin di Lentera Geografi.
Kemarin dipostingan sebelumnya kita udah ngebahas tentang proses terbentuknya Bumi kita ini kan, guys? Nah, kali ini admin akan menposting Proses Perkembangan Bumi nihh... Kita pasti tahu jika sesuatu itu terbentuk, pasti ada yang namanya perkembangan. Kalian pasti penasaran kan, gimana proses perkembangan Bumi kita ini? Tanpa basa-basi lagi, langsung cek aja ke bawah, guys!

A. Teori Perkembangan Bumi
    Banyak para pakar ahli yang ber-asumsi tentang proses berkembangnya bumi. Dari asumsi tersebut, menghasilkan beragam teori, diantaranya :

1. Teori Kontraksi dari James Dana dan Elie de Baumant

Teori Kontraksi

    Dalam teori ini dinyatakan bahwa bumi mengalami pengerutan karena pendinginan di bagian dalam bumi akibat konduksi panas,sehingga mengakibatkan bumi tidak rata.


2. Teori Descartes dan Suess
    Dalam teori ini dikatakan bahwa pada saat bola bumi mendingin maka terjadilah proses pengerutan dan semakin menyusut.Kerutan-kerutan itulah sebagai pegunungan,lipatan yang kita kenal sampai sekarang.Teori Descartes dan Suess ini disebut teori kontraksi.

3. Teori Geosinklin

 
Teori Geosinklin
    Teori ini dikonsep oleh Hall pada tahun1859 yang kemudian dipublikasikan oleh Dana pada tahun 1873. Teori ini bertujuan untuk menjelaskan terjadinya endapan batuan sedimen yang sangat tebal, ribuan meter dan memanjang seperti pada Pegunungan Himalaya, Alpina dan Andes.

   Teori geosinklin menyatakan bahwa suatu daerah sempit pada kerak bumi mengalami depresi selama beberapa waktu sehingga terendapkan secara ekstrim sedimen yang tebal. Proses pengendapan ini menyebabkan subsidence (penurunan) pada dasar cekungan. Endapan sedimen yang tebal dianggap berasal dari sedimen akibat proses orogenesa yang membentuk pengunungan lipatan dan selama proses ini endapan sedimen yang telah terbentuk akan mengalami metamorfosa. Batuan yang terdeformasi didalamnya dijelaskan sebagai akibat menyempitnya cekungan karena terus menurunnya cekungan, sehingga batuan terlipat dan tersesarkan. Pergerakan yang terjadi adalah pergerakan vertikal akibat gaya isostasi.

   Teori ini mempunyai kelemahan tidak mampu menjelaskan asal-usul aktivitas vulkanik dengan baik dan logis. Keteraturan aktivitas vulkanik sangatlah tidak bisa dijelaskan dengan teori geosinklin. Pada intinya, golongan ilmuwan menganggap bahwa gaya yang bekerja pada bumi merupakan gaya vertikal. Artinya, semua deformasi yang terjadi diakibatkan oleh gaya utama yang berarah tegak lurus dengan bidang yang terdeformasi.

4. Hipotesa Pengapungan Benua (Continental Drift)

 
Hipotesa Continental Drift
   Tahun 1912, Alfred Wegener seorang ahli meteorologi Jerman mengemukakan konsep Pengapungan Benua (Continental drfit). Dalam The Origin of Continents and Oceans. Hipotesa utamanya adalah satu “super continent” yang disebut Pangaea (artinya semua daratan) yang dikelilingi oleh Panthalassa (semua lautan). Selanjutnya, hipotesa ini mengatakan 200 juta tahun yang lalu Pangaea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil. Dan kemudian bergerak menuju ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini. Sedangkan hipoptesa lainnya menyatakan bahwa pada mulanya ada dua super kontinen , yaitu pangea utara yang disebut juga Laurasia, dan pangea selatan yang disebut juga Gondwanaland.


B. Perkembangan Bumi dari Masa ke Masa
Ilustrasi Perkembangan Bumi

    Menurut teori geologi, proses perkembangan bumi dibagi menjadi empat tahapan masa, yaitu masa Prakambium, masa Paleozoikum, masa Mesozoikum, masa Neozoikum/Kenozoikum

1. Prakambrium

   Zaman Prakambrium lebih tua dari zaman Kambrium, di mana lapisan-lapisannya terdapat di bawah lapisan-lapisan yang mengandung fosil. Jelasnya, lapisan batuan baru dikatakan pasti berumur Prakambrium jika tertutup lapisan yang berfosil Kambrium.

   Penampakan batuan Prakambrium sangat jarang sekali dijumpai di permukaan bumi, hanya di beberapa daerah dan terbatas pada tempat tertentu. Diperkirakan batuan Prakambrium tampak di permukaan bumi karena batuan-batuan itu sejak terjadi tidak pernah tertutup oleh sedimen yang lebih muda dan sedimen-sedimen muda yang ada sudah habis terkikis oleh erosi. Umumnya daerah-daerah itu merupakan bagian pusat benua.

    Karena bentuknya agak melingkar dan permukaannya sedikit cembung maka inti-inti Prakambrium disebut perisai benua. Di sekitar bagian pusat yang berbentuk perisai itu, lapisan Prakambrium tertutup oleh lapisanlapisan yang lebih muda, makin jauh dari bagian pusat akan semakin tebal. Lapisan Prakambrium terdiri atas batuan-batuan berhablur, baik yang berasal dari pembekuan magma cair, maupun dari peleburan dan penghabluran kembali sedimen-sedimen dan batu-batuan lainnya, yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dan fisis pada sedimen-sedimen dan batuan beku.

   Seringkali batu-batuan Prakambrium sangat sulit diselidiki untuk mengetahui proses manakah di antara ketiga proses tersebut yang sesungguhnya telah membentuk batuan tadi, dan diantaranya dapat ditemukan bentuk-bentuk peralihan. Oleh sebab itu, pelapisan seperti pada sedimen-sedimen tidak banyak diketahui. Seandainya terdapat perlapisan maka seringkali hal ini disebabkan juga oleh perubahanperubahan fisis dan kimiawi tertentu pada tekanan yang tinggi. Hubungan dalam ruang dari batuan sangat rumit dan sulit untuk diuraikan.

   Pada masa Prakambrium dapat diketahui pula bahwa di beberapa daerah terdapat iklim yang sangat dingin (endapan terbentuk oleh es darat atau gletser), sedangkan pada saat lain, iklimnya panas dan lembap (lapisan yang berwarna merah dengan rekah kerut), tetapi sangat sukar untuk menentukan iklim dari lapisan-lapisan sedimen yang ada. Pada waktu itu permukaan bumi yang ada di atas muka laut merupakan gurun, yang tidak disebabkan karena kekurangan air yang sangat besar (Sahara), tetapi karena pada waktu itu belum terdapat tumbuh-tumbuhan darat. Faktor lain adalah adanya oksigen bebas dalam atmosfer, yang jauh lebih sedikit daripada sekarang.

   Sesudah diadakan penelitian dan penyelidikan yang saksama terhadap sisa-sisa batuan, diketahui bahwa pada masa Prakambrium tidak ditemukan bentuk-bentuk hidup dengan tekstur dan bentuk yang terang/jelas. Tekstur adalah istilah yang dipakai untuk bentuk-bentuk dan arah-arah di dalam batuan, misalnya tekstur butir. Struktur adalah istilah yang lebih banyak dipakai untuk bentuk-bentuk yang terbangunkan oleh kumpulan batuan kubah. Di samping itu juga didapati jejak rayapan cacing atau binatang serupa itu. Dalam masa Prakambrium tidak ada jasad-jasad yang dapat membuat rangka yang keras sehingga pemfosilan tidak mungkin terjadi.

2. Paleozoikum
   Masa Paleozoikum dibagi menjadi 6 zaman, yaitu sebagai berikut :

a. Zaman Kambrium (590 juta - 500 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini, bumi masih berbentuk lautan yang luas dengan daratan
yang disebut Gondwana. Gondwana ini yang merupakan cikal bakal pulau
atau negara India, Afrika, sebagian Asia, Australia, Antartika, dan lainnya.

b. Zaman Ordovisium (500 juta - 440 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini, daratan Gondwana masih menutupi celah-celah
samudera. Meluapnya samudera dan terjadinya zaman es adalah
sebagian peristiwa yang terjadi pada masa ini.

c. Zaman Selur (440 juta - 410 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini terjadi pembentukan kereta pegunungan yang melintasi
daerah-daerah yang sekarang kita kenal sebagai daerah Skandinavia,
Skotlandia, dan pantai Amerika Utara.

d. Zaman Devon (410 juta - 360 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini terjadi penyurutan samudera hingga menyebabkan benua
raksasa Gondwana, daerah Eropa Timur, dan Greenland terjadi pada masa ini.

e. Zaman Karbon Kwali (360 juta - 260 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini mulai terjadi penyatuan benua dan membentuk daratan
(pangea) yang iklim daerahnya tergantung kepada letak geografis dan
astronomis masing-masing.

f. Zaman Perm (260 juta - 250 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini, Benua Pangea bergabung bersama membentuk daratan. Air
mulai menyurut karena terjadi pembekuan di daerah Antartika dan Afrika
yang menyebabkan terjadinya iklim kering gurun pasir di daerah utara.

3. Mesozoikum
   Masa Mesozoikum terbagi pula menjadi 3 zaman, yaitu sebagai berikut.

a. Zaman Trias (250 juta - 210 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini, Benua Pangea bergerak ke arah utara dan daerah gurun
terbentuk. Lembaran es di daerah selatan mulai mencair dan celah-celah
antara benua mulai terbentuk di Pangea.

b. Zaman Jura (210 juta -140 juta tahun yang lalu)
   Pada zaman ini, Benua Pangea terpecah, yaitu daratan yang sekarang
dikenal sebagai Amerika Utara memisahkan diri dari daratan yang
dikenal sekarang sebagai Afrika. Selain itu, daratan yang sekarang
dikenal sebagai Amerika Selatan memisahkan diri dari daratan yang
sekarang lebih dikenal sebagai Antartika dan Australia.

c. Zaman Kapur (140 juta - 65 juta tahun yang lalu)
   Sebuah pulau yang sekarang dikenal sebagai negara India terlepas dari
Afrika daratan utamanya, menuju daerah Asia dan terbentuklah iklim
sedang di daerah India.


4. Kenozoikum/Neozoikum
   Masa Kenozoikum disebut juga masa Neozoikum, terdiri atas zaman tersier dan kwartir dan merupakan tingkat kehidupan baru.


a. Zaman Tersier
   Zaman tersier terbagi menjadi zaman eosen, oligosen, dan pleiosen. Zaman eosen berumur 70 juta, oligosen 42 juta tahun, miosen 30 juta tahun, dan pleiosen 16 juta tahun. Pada zaman tersier tumbuh-tumbuhan berkembang biak dan meluas ke seluruh wilayah kontinen, demikian juga mulai timbul dan berkembang tumbuh-tumbuhan berbunga. Binatang menyusui dan burung-burung mulai meluas pada zaman ini. Keadaan iklim tidak begitu berbeda dengan zaman sekunder. Pada zaman ini batu bara muda mulai terbentuk.


b. Zaman Kwartir
   Zaman kwartir terdiri atas zaman pleistosen atau dilluvium dan zaman holosen atau alluvium. Kedua zaman ini berumur kurang lebih 3 juta tahun yang lalu. Pada zaman kwartir telah muncul manusia pertama.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat urutan tabel skala waktu geologi sebagai berikut, guys! 
Skala Waktu Geologi


   Gimana guys? udah kebayang gak gimana bumi kita ini berkembang dari zaman ke zaman. Subhanallah, Sungguh luar biasa zat yang menciptakan segala-nya. Semua itu tak lain dan tak bukan hanyalah milik Allah SWT. 
   Semoga postingan dari admin dapat bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Untuk pertanyaan dan masukan mari kita diskusikan bersama dikolom komentar. Jangan lupa baca postingan lain yang tak kalah menariknya hanya di Lentera Geografi :)

Jangan lupa tonton juga video tentang perkembangan Bumi-nya :)

Referensi : https://www.youtube.com/watch?v=jz-cbqE8GdM
  sma10 geo Geografi Iskandar